
MANADO, SULUTHEADLINE.COM — Kekayaan budaya Minahasa Raya mendapat ruang di tengah masyarakat melalui gelaran Rona Budaya Sulawesi Utara yang memasuki pekan kedua.
Berlangsung di Museum Negeri Sulawesi Utara, Jalan WR Supratman, Kelurahan Lawangirung, Manado, kegiatan yang digagas Dinas Kebudayaan Daerah Sulawesi Utara itu menghadirkan beragam seni, tradisi, musik, hingga karya budaya dari sejumlah kabupaten dan kota.
Rona Budaya merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Utara. Setelah pekan sebelumnya menampilkan kekayaan budaya Nusa Utara, panggung budaya tersebut kini memberi kesempatan bagi Minahasa Raya untuk memperkenalkan identitas dan warisan tradisinya.
Namun, gelaran ini tidak hanya ditempatkan sebagai pertunjukan seni. Kehadiran pelaku UMKM dan ekonomi kreatif membuat Rona Budaya juga menjadi ruang promosi produk lokal sekaligus membuka peluang perputaran ekonomi masyarakat.
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus SE mengatakan keberagaman budaya daerah harus terus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Setelah minggu sebelumnya dari Nusa Utara, minggu ini Minahasa. Kita berharap bisa menampilkan budaya yang ada,” ujar Yulius.
Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, seniman, budayawan, musisi, pelaku UMKM hingga masyarakat.
Karena itu, Yulius mengajak masyarakat tidak hanya datang menyaksikan pertunjukan, tetapi juga memberikan dukungan kepada pelaku UMKM dengan membeli produk yang dipasarkan selama kegiatan berlangsung.
“Ini juga untuk meningkatkan ekonomi,” katanya.
Gubernur Yulius menekankan pentingnya menjaga keberadaan Museum Negeri Sulawesi Utara sebagai salah satu ruang untuk merawat sekaligus memperkenalkan warisan budaya daerah.
Menurutnya, museum harus terus dihidupkan sehingga masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal sejarah, seni dan budaya Sulawesi Utara secara lebih dekat.
“Museum ini kita jaga, kita rawat bersama. Budaya, seni dan UMKM kita jaga dan tingkatkan ke dunia. Inilah Sulawesi Utara yang kita cintai bersama,” tuturnya.
Ia juga meminta insan pers ikut mengambil bagian dalam mempromosikan Rona Budaya agar berbagai potensi seni dan budaya Sulawesi Utara semakin dikenal, termasuk oleh wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara.
“Ke depan semakin tampak, terpelihara kepada anak cucu, wisatawan baik lokal maupun internasional,” ungkapnya.
Pekan kedua Rona Budaya menghadirkan beragam pertunjukan yang merepresentasikan kekayaan budaya Minahasa Raya.
Kota Manado menampilkan Tari Mahambak yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Bantik. Selain itu, hadir pula Tari Katrili dan Tari Maengket yang lekat dengan identitas budaya Minahasa.
Kabupaten Minahasa Utara menghadirkan Tari Lenso. Sementara Kota Tomohon membawa musik kolintang dan Kabupaten Minahasa menampilkan musik bambu khas Minahasa.
Dari Minahasa Tenggara, penyanyi solo Velope Pelleng tampil membawakan lagu berbahasa daerah. Penampilan lainnya diisi kelompok kwartet dengan lagu legendaris Kapia Makalupa.
Panggung budaya juga menghadirkan lagu Makaruyen Makalelon serta penampilan Mawolai dari Minahasa Selatan yang membawa pesan pelestarian yaki, salah satu satwa endemik Sulawesi Utara.
Sementara dari Kota Bitung tampil Tarian Cakalang, sebuah tarian kreasi yang menggambarkan identitas Bitung sebagai daerah yang memiliki kekuatan pada sektor perikanan.
Rangkaian pertunjukan kemudian ditutup dengan penampilan penyanyi Gio Lelaki.
Rona Budaya masih berlanjut selama sepekan ke depan di halaman Museum Negeri Sulawesi Utara.
Selain pertunjukan seni, masyarakat dapat menikmati dan membeli berbagai produk UMKM kuliner yang turut meramaikan kegiatan.
Gerabah Pulutan dari Kabupaten Minahasa juga dijadwalkan menjadi bagian dari sajian budaya dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Dengan menghadirkan seni, tradisi, UMKM dan ekonomi kreatif dalam satu ruang, Rona Budaya diharapkan tidak berhenti sebagai agenda perayaan hari jadi provinsi.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk memastikan budaya lokal tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.
Sebab, ukuran keberhasilan pelestarian budaya bukan hanya seberapa meriah sebuah pertunjukan digelar, tetapi sejauh mana tradisi tersebut tetap dikenal generasi muda, menarik wisatawan, memberi ruang bagi para pelaku seni, serta mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang mempertahankannya.***







