16 September 2026
Gubernur Yulius Selvanus Dorong Generasi Muda Sulut Cerdas Kelola Keuangan, Tak Cukup Sekadar Menabung

Gubernur Sulut Yulius Selvanus mendorong generasi muda cerdas mengelola keuangan, disiplin menabung, memahami risiko dan bijak menggunakan layanan digital.

MANADO, Sulutheadline.com – Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak pada pola pikir bahwa memiliki rekening tabungan sudah cukup untuk disebut melek keuangan.

Menurut Yulius, kemampuan mengatur pemasukan, membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami risiko serta menggunakan layanan keuangan digital secara aman merupakan bagian penting dari kecakapan finansial yang harus dibangun sejak dini.

Pesan tersebut disampaikan Yulius dalam puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2026 di Graha Gubernuran Bumi Beringin, Manado, Kamis (20/8/2026).

Mengusung tema “Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mendorong pelajar dan mahasiswa memiliki kebiasaan finansial yang lebih sehat.

Yulius menilai menabung bukan hanya soal menyisihkan uang, tetapi juga latihan membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab.

Kebiasaan tersebut, katanya, akan membantu generasi muda belajar menentukan prioritas, mengendalikan keinginan konsumtif dan menyiapkan kebutuhan untuk masa depan.

“Menabung bukan sekadar tindakan menyisihkan sebagian uang sisa. Lebih jauh dari itu, menabung adalah sebuah latihan pembentukan karakter,” ujar Yulius.

Ia menyebut generasi muda memiliki posisi strategis karena jumlahnya mencapai sekitar 31 persen dari total populasi Indonesia. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.

Namun, Yulius juga menyoroti masih adanya jarak antara akses layanan keuangan dengan pemahaman masyarakat dalam menggunakannya.

Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, tingkat inklusi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa telah mencapai 92,76 persen. Sementara tingkat literasinya baru berada di angka 62,72 persen.

Bagi Yulius, angka tersebut menunjukkan bahwa memiliki akses terhadap produk keuangan belum otomatis membuat seseorang mampu mengambil keputusan finansial secara tepat.

“Memiliki rekening hanyalah pintu masuk. Tujuan utama kita adalah membentuk generasi yang cakap menyusun perencanaan keuangan, peka terhadap risiko finansial dan mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab,” tegasnya.

Di Sulawesi Utara, penguatan edukasi keuangan juga terus dilakukan. OJK mencatat telah digelar 119 kegiatan edukasi keuangan di 12 kabupaten/kota dengan jumlah peserta lebih dari 90 ribu orang.

Sementara dari sisi inklusi, sekitar 41 ribu rekening pelajar baru telah dibuka dengan total nilai tabungan mencapai Rp18,38 miliar.

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Gubernur Yulius. Ia menilai sinergi antara OJK Sulawesi Utara dan Gorontalo, Bank Indonesia, industri jasa keuangan, TPAKD, institusi pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan telah memberikan hasil positif.

Meski demikian, Yulius meminta agar capaian tersebut tidak berhenti sebagai statistik.

Ia mendorong agar rekening pelajar yang telah dibuka tetap aktif dan diikuti dengan peningkatan kemampuan dalam mengelola uang.

Untuk itu, Yulius memberikan tiga pesan sederhana kepada generasi muda. Pertama, membiasakan diri menabung sejak menerima uang. Kedua, mendahulukan kebutuhan dibandingkan keinginan impulsif. Ketiga, ikut menjadi penggerak literasi keuangan di lingkungan sekolah, kampus, keluarga dan masyarakat.

“Ukuran keberhasilan menabung tidak hanya dihitung dari berapa besar nominal yang terkumpul, melainkan dari konsistensi karakter dan nilai-nilai kedisiplinan yang terbentuk,” katanya.

Pemprov Sulut juga menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan. Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) akan terus diperkuat, bersamaan dengan edukasi mengenai pembiayaan UMKM, lembaga keuangan mikro, asuransi dan investasi yang aman.

Selain itu, kecakapan keuangan digital menjadi perhatian, terutama melalui pemanfaatan transaksi digital seperti QRIS yang harus dibarengi pemahaman mengenai keamanan siber dan perlindungan data pribadi.

Aspek perlindungan konsumen juga menjadi bagian penting agar masyarakat mendapatkan informasi yang transparan sekaligus memiliki akses pengaduan ketika menghadapi persoalan layanan keuangan.

Yulius menegaskan pembangunan ekosistem keuangan yang sehat membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah, keluarga, sekolah, industri jasa keuangan dan generasi muda memiliki peran yang sama pentingnya.

Ia berharap momentum Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan 2026 tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi titik awal lahirnya generasi Sulut yang lebih disiplin, kritis dan cerdas mengambil keputusan finansial.

“Dari sekadar tahu menjadi mampu, dari sekadar memiliki akses menjadi cakap menggunakan dan dari sekadar menabung menjadi pandai merencanakan masa depan,” pungkas Yulius.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *