Manado,Sulutheadline.com — Kemajuan zaman membawa Sulawesi Utara pada berbagai peluang baru. Teknologi berkembang, informasi bergerak tanpa batas dan generasi muda semakin mudah berinteraksi dengan dunia luar.
Namun, di balik perubahan tersebut muncul satu tantangan: bagaimana tetap melangkah maju tanpa kehilangan identitas daerah.
Pesan itu menjadi salah satu benang merah Festival Literasi Sulawesi Utara 2026 yang mengangkat tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban.”
Literasi dalam konteks ini tidak hanya berbicara tentang buku dan aktivitas membaca. Literasi juga menjadi jalan untuk mengenali sejarah, memahami budaya serta menjaga nilai-nilai lokal agar tetap hidup di tengah perubahan.
Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus menilai masyarakat yang maju harus memiliki kemampuan memahami perkembangan zaman sekaligus tidak tercerabut dari akar budayanya.
“Peradaban yang maju dan berkeadaban dibangun di atas fondasi literasi yang kokoh,” ujar Yulius.
Membaca Dunia, Mengenal Daerah Sendiri
Generasi muda Sulawesi Utara saat ini memiliki akses luas terhadap berbagai pengetahuan dan informasi dari seluruh dunia.
Namun, kemampuan mengakses dunia harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengenal daerah sendiri.
Sejarah, bahasa, tradisi, budaya dan kearifan lokal tidak boleh hanya menjadi catatan masa lalu. Semua itu dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan gagasan baru.
Karena itu, merawat budaya bukan berarti menolak modernisasi.
Sebaliknya, nilai-nilai lokal dapat menjadi modal untuk menciptakan narasi baru tentang Sulawesi Utara yang lebih maju, kreatif dan berdaya saing.
Di sinilah festival literasi menemukan maknanya.
Masyarakat diberikan ruang untuk bertemu, bertukar gagasan dan menghasilkan karya. Generasi muda juga didorong untuk melihat bahwa membaca bukan sekadar aktivitas akademis, tetapi cara untuk memahami kehidupan dan lingkungan sosialnya.
Gerakan yang Tidak Boleh Berhenti
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memberikan dukungan terhadap kegiatan yang mendorong tumbuhnya budaya literasi di tengah masyarakat.
Gubernur Yulius juga menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Perpustakaan Nasional, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Utara serta seluruh pihak yang terlibat dalam festival tersebut.
Namun, tantangan sesungguhnya justru muncul setelah festival berakhir.
Semangat membaca, menulis, berdiskusi dan berkarya harus dibawa kembali ke sekolah, perguruan tinggi, keluarga serta komunitas.
Sebab, budaya literasi tidak mungkin dibangun hanya melalui satu kegiatan.
Ia membutuhkan gerakan yang konsisten dan keterlibatan banyak pihak.
Merawat Kearifan, Menciptakan Masa Depan
Sulawesi Utara membutuhkan generasi yang mampu berdiri di tengah perubahan tanpa kehilangan jati dirinya.
Mereka harus mampu memahami perkembangan teknologi, menyaring informasi, berpikir kritis dan menciptakan inovasi. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga harus mengenal sejarah serta menghargai warisan budaya daerah.
Dari titik inilah tema Festival Literasi Sulawesi Utara 2026 menemukan relevansinya.
Merawat kearifan bukan berarti menoleh ke belakang
Justru dari kearifan itulah generasi masa kini dapat membangun narasi baru untuk masa depan.
Literasi kemudian menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan—menghubungkan pengetahuan, budaya, kreativitas dan pembangunan manusia.
Jika gerakan tersebut terus dirawat,
literasi tidak berhenti sebagai sebuah festival. Ia dapat tumbuh menjadi budaya yang membentuk karakter generasi sekaligus memperkuat fondasi pembangunan Sulawesi Utara.
Sebab daerah yang benar-benar maju bukan hanya daerah yang memiliki pembangunan fisik, tetapi juga daerah yang mampu menjaga identitas sambil menciptakan masa depannya sendiri.(*)






